Lo tau nggak seh?? wuenaak tenaann…!!
Mar 09

Lagi?? Yeah, aku memang seneng banget nonton nih film. Meskipun diulang berkali-kali tetep aja membuatku berdecak kagum. By the way, aku bukan orang yang paham tentang teknis film. Bicara soal pencahayaan, teknik pengambilan gambar, etc. Hal yang paling sering aku sikapi adalah inside sebuah film. Pesan yang tertanam ketika aku keluar dari ruang bioskop atau setelah nonton di DVD. Bukan hanya sebuah ekspresi perasaan; senang, bahagia, lucu, sedih, dan sebagainya. Tapi sebuah pesan. Sebuah inside.

Aku nggak mau membahas film ini lagi, karena aku sudah pernah memberikan sinopsisnya beberapa waktu lalu. Aku cuma ingin berbagi inside yang aku dapatkan. Buat aku, ini film bagus. Sangat banyak pesan yang aku dapatkan. Film yang nggak sekali dua kali membuat aku merinding, tergetar. Dan ada 2 moment yang aku benar-benar terhenyak melihatnya, karena 2 peristiwa itu memberikan makna yang paling mendalam bagiku.

Moment pertama, ketika Fahri dipenjara karena difitnah menghamili Noura. Moment ketika dalam kenggaksiapan Fahri menerima kenyataan itu, rekan satu selnya menyampaikan state yang sangat luar biasa. aku nggak ingat persisnya. Tapi pesannya kira kira seperti ini (jika ada yang ingat dan bisa memberikan yang lebih tepat, dengan senang hati).

“Tuhan justru saat ini tengah berbicara denganmu anak muda. Dia tengah bicara denganmu. Selama ini kau telah sombong karena dianggap dan merasa selalu berbuat baik dan benar. Tuhan itu nggak hanya untuk orang-orang yang baik. Tuhan itu untuk seluruh umat manusia. Tuhan tengah bicara padamu anak muda, tentang sabar dan ikhlas”.

Sungguh. Aku merinding. Betapa sering, sadar nggak sadar kita seperti itu. Ketika kita melihat figur teman selnya, aku yakin mayoritas kita, baik difilm itu maupun di kehidupan sehari-hari akan memandang sebelah mata. Tapi betapa dahsyat pesan yang keluar. Kita, sering, mungkin sangat sering terjebak melihat siapa yang bicara, bukan apa yang disampaikan. Berapa banyak dalam kondisi real-nya kita mau mendengarkan pesan, apa lagi pesan yang membawa nama Tuhan, dari orang yang secara fisik seperti itu, nggak men-visualisasikan sebagai ahli agama. Berbeda jika yang bicara adalah orang dengan gelar haji didepannya, atau berjubah, hitam keningnya, “cingkrang” celananya, brewokan, dan simbol-simbol lainnya.

Tuhan tengah bicara padamu. Dan dalam prakteknya, kita justru sering memaki dan mengeluh pada Tuhan ketika kita diberi kesusahan. Berapa banyak dari kita yang mensyukuri sebuah kesulitan, dan menganggap pada situasi seperti itulah Tuhan berada sangat dekat, berbicara pada kita, mengingatkan kita.

Dan ya. Tuhan bukan hanya milik orang-orang baik. Tuhan ada untuk kita semua, tanpa terkecuali. Sebuah pesan yang dahsyat. Dan moment ketika Fahri mengalami kesulitan yang amat sangat untuk khusyu’ dalam sholatnya, juga mencuri perhatian aku.

Sabar. Ikhlas. Kata-kata yang sangat pas. Mudah diucapkan, namun berat dilaksanakan.

Moment berikutnya adalah ketika Aisha meminta Fahri untuk menikahi Maria. Entah kenapa, aku justru sangat merinding. Jelas, nggak mudah bagi Aisha untuk meminta -bukan sekedar mengizinkan- tapi meminta suaminya untuk menikahi wanita lain. Jelas, dibutuhkan mental, kelegowoan, kejernihan hati dan fikiran, ser ta keikhlasan yang luar biasa. Jelas secara real amat sangat nggak mudah. Wanita yang sangat luar biasa.

Alasan yang dikemukakan oleh Aisha juga sangat menarik untuk dicermati. Dia bukan meminta suaminya menikahi karena kasihan pada Maria. Meski dia menyatakan bahwa dia meminta karena kasih dan sayang, dan agar anak dikandungannya mengenal bapaknya, tapi alasan utama yang dia keluarkanlah yang luar biasa.

“Aku melihat sisi muslimah dalam diri Maria”.

Aku yakin ini salah satu yang dianggap kontroversi bagi beberapa rekan yang lebih memahami agama daripada aku. Namun justru peristiwa itulah yang menyebabkan kekaguman dan mempertebal keyakinanku atas agama yang aku anut. Sungguh. Aku makin meyakini bahwa Islam, keyakinan yang kuanut benar-benar membawa pada keselamatan hidup, dunia dan akhirat.

Menariknya, Aisha nggak divisualisasikan sebagai wanita yang hebat dan sempurna. Aisha justru diperlihatkan sebagaimana layaknya wanita yang nggak rela berbagi kasih sayang suami yang ia cintai. Dia tetap nggak siap melihat prosesi suaminya menikahi wanita lain -yang secara menarik, keluarnya Aisha dari ruangan tersebut diiringi dengan ucapan syahadat dari Maria, yang menyatakan bahwa dia lalu menjadi seorang muslimah-. Dia tetaplah wanita biasa yang cemburu, tak rela berbagi. Dia melakukan itu justru atas rasa cintanya yang mendalam, karena dia ingin suaminya keluar dari penjara, menjadi ayah bagi bayi dikandungannya, karena hanya Maria adalah satu-satunya saksi yang bisa membebaskan suaminya. Namun disitulah dia terlihat sempurna dimataku.

Di dua moment ini, aku nggak mampu menahan keharuan. :-(

Dimataku yang awam ini, film ini justru sebuah fenomena dakwah yang luar biasa. Mungkin nggak semua orang sepakat. Tapi Hollywood memang menurut aku telah menjalankan strategi “dakwah” yang luar biasa, dan nggak kita sadari. Film ini menunjukkan Islam yang sesungguhnya ; sangat menghargai siapa saja, damai, membawa keselamatan, sangat menghargai wanita (bukan sebagaimana doktrin yang menyatakan Islam sebagai agama teroris, nggak menghargai wanita dan lain-lain). Jika beberapa reviewer menyatakan film ini nggak realistis, aku justru beranggapan film ini sangat realistis. Sangat nyata. Sebagai contoh, dalam peristiwa ketika Fahri berpoligami, yang secara prinsip sah menurut agama, justru diperlihatkan betapa pusingnya Fahri untuk mampu berbuat adil.

Film ini juga cukup berani mem-visualisasikan tentang seorang muslim yang atas nama zionisme, kekafiran nggak mengizinkan seorang wanita Amerika yang kelelahan mendapat tempat duduk di kereta. Film ini juga cukup berani menunjukkan tentang Noura yang disiksa, diperkosa dan dizolimi oleh ayah palsunya. Tapi dimataku, aku nggak melihat hal itu sebagai bentuk pelecehan terhadap Agama Islam. Justru buat aku menunjukkan keadilan, keluasan, dan keselamatan Islam yang sesungguhnya, sebagai agama bagi ummat sepanjang masa.

Dimataku juga, kekuatan utama film ini memang ada diskenario, yang nota bene diambil dari buku Kang Habiburrahman El Shirazy. Dari sudut akting para pemerannya, aku memang nggak melihat ada pemeranan yang istimewa seperti peran Dedi Mizwar misalnya. Namun juga nggak jelek-jelek amat. Tapi biasa. Andai ada yang menurut aku paling pas, justru peran yang dilakoni oleh Carissa Putri. :-P

Alur cerita, awalnya memang nggak menggigit. Tapi klimaks yang terjadi beberapa kali cukup menarik. So, tanpa mengurangi rasa hormat aku terhadap Mas Hanung, kekuatan utama film ini justru ada pada skenario yang sarat makna. Makna yang juga nggak dipaksakan, bukan harus di-statement-kan. Aku justru terganggu dengan “paksaan menyampaian makna” tentang baiknya nilai nilai Islam. Justru, menyampaian secara alamiah lebih menarik. But, mas Hanung, salut telah memfilmkan cerita ini. Jarang aku nonton di bioskop Indonesia, mengangkat tema agama, namun dapat dinikmati oleh berbagai kalangan, mulai dari wanita berjilbab yang memenuhi bioskop sampai gadis-gadis cantik ber-rok pendek dan ber-tank top, mulai dari bermata belok sampai sipit, berkulit putih sampai hitam legam.

Akhirnya, aku harus mengakui bahwa aku sepakat dengan komentar sahabatku yang merekomendasikan aku menonton film ini. waktu itu dia berkata menyikapi kontroversi yang ada:

“Film ini bercerita tentang hakikat. maka jika dilihat dari sudut syariat, maka sangat dimungkinkan film ini dianggap salah kaprah”

Oyah, aku baru membaca proses pembuatan film ini di blog Mas Hanung. Dan sungguh, aku terhenyak. Nggak menyangka begitu banyak masalah yang tercipta. Betapa sulit mengkompromikan idealisme dan realita, sesuatu yang sebenarnya terjadi setiap saat.

Mas hanung, maafkan jika mulut ini begitu mudah menghujat. Jujur, salut buat anda. Hanya itu yang bisa aku ucapkan. Ketidaktahuan memang membuat kita dengan mudah melakukan judgement. Maaf dan salut dariku. Aku sangat sadar betapa sulit ketika idealisme dan realita berada ditempat yang sama. ;-)

written by spyd3r

6 Responses to “Ayat-ayat Cinta (lagi!!)”

  1. ubie Says:

    lebih seru kalo baca novel na mid ..
    kagak rugi dah ..

  2. sitampandarimipaselatan Says:

    saya kok malah ngerasa kalo si fahri di filmnya lebih manusiawi ketimbang di novelnya, ya. karakternya malah jadi lebih hidup, menurut saya :D

  3. oblya Says:

    http://ruanghakim.wordpress.com/2008/01/21/ayat-ayat-setan-berkedok-ayat-ayat-cinta/

    Ente sudah tau link itu pastinya, kasih tau sahabat ente yg rekomen film + pake dalih, untuk baca juga link itu. Juga buat temen2 “korban” film fenomenal AAC yg konon mengundang “penikmat2 baru di dunia cinema” seperti ibu pengajian + mbak2 berjilbab yg “tergoda” dengan cerita [seperti] Islami..

    Wallahu a’lam

  4. eMiL Says:

    Waahh…keyen ka web Na.hmm…kLo aku suka wakTu FahRi biLang:
    “jodoH iTu buKan daTang daRi LangiT..Tapi Dari haTi”
    kLo ngak saLah kaTa2 na ky nTu..
    saLuT deh buaT kak diMas unTuk arTikeL na..

  5. freemasonwatch Says:

    film aac bagus juga meskipun novelnya kental akan ekspresi narsisme dan egomaniacal dari penulisnya yang dikemas dalam eksibisme kesalehan dan kealiman. Menurut gua cerita di novel aac merupakan dakwah islami sekaligus keinginan bawah sadar dari penulisnya untuk dipuja-puja. digila-gilai , dipuja2kaum wanita. Sebuah obsesi yang tidak mencapai kenyataan, akhirnya diproyeksikan dalam bentuk novel. Mungkin penulisnya pengen banget jadi nabi Yusuf. Dipenjara, difitnah, jago ngaji,ganteng, sholeh, alim dan dikejar-kejar cewe-cewe. Mantaaap hehehe

  6. ayu hanafiah Says:

    yup, saya juga suka adegan yang di penjara itu.. merinding! bergetar.. Subhanallah.

    ngena banged lah intinya. semoga film itu bisa membawa angin segar buat dunia perfilman indo yg makin hari makin dipenuhi ma film2 cabul.. hihi

Leave a Reply